Sabtu, 05 September 2009

Karomah

Apa itu Karomah?

Karomah adalah perkara di luar kebiasaan yang Allah jadikan melalui seorang wali sebagai bantuan, dukungan dan peneguhan baginya atau sebagai pertolongan kepada agama.

Karomah ini hanya Allah berikan kepada wali agar tidak tercampuri oleh perkara-perkara sihir dan dukun yang terjadi luar biasa tetapi tidak terjadi melalui seorang wali akan tetapi melalui musuh Allah, jadi ia bukanlah karomah.

Perkara-perkara luar biasa yang katanya karomah ini banyak terjadi pada tukang sihir yang menghalang-halangi jalan Allah maka kita wajib berhati-hati dari mereka dan dari permainan mereka terhadap akal dan pikiran manusia.

Siapa itu wali?

Allah menjawabnya dalam firmanNya;

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus: 62-63).

Syaikhhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Setiap Mukmin yang bertakwa adalah wali Allah.”

:: Akidah Ahlus Sunnah ::

Ibnu Taimiyah berkata dalam al-Aqidah al-Wasithiyah “Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah mempercayai karomah para wali.”

Akidah ini berpijak kepada dalil-dalil dari al-Qur`an, sunnah dan fakta nyata. Di antara karomah yang ditetapkan oleh al-Qur'an yang terjadi pada umat terdahulu adalah kisah ashabul kahfi yang hidup di antara kaum musyrikin sementara mereka beriman kepada Allah, mereka khawatir tidak mampu mempertahankan keimanannya maka mereka meninggalkan negeri mereka berhijrah kepada Allah. Allah menyediakan sebuah goa di gunung, mulut goa ini di utara maka matahari tidak masuk kepada mereka sehingga merusak tubuh mereka dan mereka pun tetap memperolehnya, apabila ia terbit maka ia condong dari gua mereka ke sebelah kanan dan apabila ia terbenam maka ia menjauhi mereka ke sebelah kiri sementara mereka di tempat yang luas di goa itu. Mereka tinggal di goa tersebut dalam keadaan tidur selama tiga ratus sembilan tahun. Allah membolak-balik mereka ke kanan dan ke kiri di musim panas dan dingin. Panas tidak mengganggu mereka, dingin tidak menyulitkan mereka. Mereka tidak lapar, tidak haus, dan tidak bosan tidur. Ini jelas karomah, mereka dalam keadaan demikian sampai Allah membangkitkan mereka sementara kesyirikan telah lenyap dari negeri mereka, maka mereka pun selamat darinya.

Di antara karomah yang ada di dalam al-Qur'an adalah kisah Maryam, Allah memberinya karomah di mana Dia membawanya ke pohon kurma pada saat menjelang melahirkan. Allah memerintahkannya agar menggoyang batang pohon kurma tersebut maka ia pun memberinya kurma-kurma yang ranum.

Di antaranya adalah kisah seorang laki-laki yang dimatikan Allah selama seratus tahun lalu Allah membangkitkannya sebagai karomah untuknya agar dia mengetahui kodrat Allah dan imannya bertambah kuat.

Adapun dalam sunnah maka kisah tiga orang dari Bani Israil yang terjebak di dalam goa oleh sebuah batu besar, mereka berdoa kepada Allah dengan bertawasul kepadaNya dengan amal-amal shalih mereka, akhirnya Allah menggeser batu dan mereka berhasil keluar dengan selamat.

Di antaranya kisah Juraij yang dituduh menghamili seorang wanita pelacur, pada saat anak itu lahir, Juraij menusuk perutnya sambil berkata, “Wahai bocah, siapa bapakmu?” Maka bocah itu menjawab, “Fulan, si gembala.”

Di antaranya adalah kisah anak muda Ashabul Ukhdud yang bisa menyembuhkan orang buta dengan izin Allah, bisa selamat ketika hendak dilemparkan dari puncak gunung, bisa selamat ketika hendak diceburkan ke laut dengan izin Allah, namun dia mati dengan sebuah anak panah dari Raja yang melepaskannya dengan menyebut nama Allah.

Adapun dari kenyataan maka diriwayatkan bahwa Shilah bin Asyyam, kudanya mati lalu Allah menghidupkannya sehingga Shilah bisa pulang dengannya sampai rumah. Begitu sampai di rumah dia berkata kepada anaknya, “Ambil pelananya karena ia adalah pinjaman.” Ketika pelananya diambil kuda tersebut mati lagi.

Dalam sejarah disebutkan bahwa Saad bin Abu Waqqash menyeberangi sungai Dajlah dengan pasukan berkudanya layaknya mereka berjalan di daratan.

Dari Tsabit al-Bunani berkata, petugas kebun Anas datang, dia berkata, “Tanahmu kehausan.” Maka Anas memakai bajunya lalu dia keluar ke tanah lapang, kemudian dia shalat dan berdoa, tiba-tiba sebuah awan bergerak ke arah kebunnya, di sana awan itu menumpahkan airnya sehingga selokan-selokannya penuh, hal itu terjadi di musim kemarau, lalu Anas mengutus sebagian keluarganya, dia berkata, “Lihatlah sampai di mana hujan itu?” Ternyata hujan tersebut tidak melebihi kebunnya kecuali sedikit.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah shahih tentang karomah auliya`. Maka Ahlus Sunnah wal Jamaah membenarkan dan mempercayai karomah para wali.
Pendapat Ahlus Sunnah wal Jamaah ini berseberangan dengan pendapat Mu’tazilah dan para pengikutnya di mana mereka mengingkari karomah. Mereka berkata, “Kalau kita menetapkan karomah maka tidak bisa dibedakan antara tukang sihir dengan wali, wali dengan Nabi karena masing-masing hadir dengan perkara di luar kebiasaan.”

Kami katakan, tidak mungkin karena karomah terjadi pada wali dan wali tidak mungkin mengaku menjadi nabi, kalau dia mengaku nabi maka ia bukan wali. Perkara luar biasa milik nabi terjadi pada nabi, sementara tipu muslihat dan sihir terjadi pada orang yang jauh dari Allah, ia melakukannya dengan bantuan setan maka dia mendapatkannya dengan usahanya lain dengan karomah yang datang dari Allah, wali tidak mencari dengan usahanya.

Fungsi Karomah

Karomah itu memiliki empat fungsi:
Pertama: Menjelaskan kodrat Allah yang sempurna di mana ia terjadi karena izin dari Allah.
Kedua: Membuktikan kedustaan pendapat yang berkata, alamlah yang berbuat karena jika tabiat yang berbuat niscaya ia berjalan lurus rapi tidak berubah jika kebiasaan dan tabiat berubah maka ia adalah bukti bahwa alam memiliki Tuhan yang mengatur.
Ketiga: Ia adalah ayat bagi Nabi yang diikuti seperti yang telah dijelaskan.
Keempat: Ia meneguhkan dan penghormatan bagi wali yang bersangkutan.


Pembagian Karomah

Karomah terbagi menjadi dua bagian: Bagian yang berkaitan dengan ilmu dan mukasyafah dan bagian lain yang berkaitan dengan kodrat dan pengaruh.

Yang berkait dengan ilmu: Seseorang mendapatkan ilmu yang tidak didapatkan oleh orang lain.

Yang berkait dengan mukasyafah: Seseorang dibukakan untuknya apa yang tidak dibukakan untuk orang lain.

Contoh yang pertama – ilmu – adalah Abu Bakar, Allah membuatnya mengetahui janin di rahim istrinya, bahwa janinnya adalah perempuan. Hal ini disebutkan dalam al-Ishabah karya Hafizh Ibnu Hajar.

Contoh yang kedua – mukasyafah – Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab, dia berkhutbah pada hari Jum’at di atas mimbar. Para hadirin mendengar Umar berkata, “Hai Sariyah, gunung.” Mereka terkejut kemudian mereka bertanya tentang hal itu kepadanya. Maka Umaar menjelaskan bahwa telah dibukakan untuknya pasukan yang dipimpin oleh Sariyah bin Zanyam – salah seorang panglima di Irak – dikepung musuh maka Umar mengintruksikannya ke gunung. Dia berkata, “Hai Sariyah, gunung.” Sariyah mendengar suara Umar dan dia mundur ke gunung dan berbenteng dengannya.

Ini termasuk mukasyafah, ia terjadi hanya saja tidak sering.

Adapun kodrat dan pengaruh maka contohnya adalah Maryam yang menggoyang batang kurma lalu buahnya berjatuhan.
Juga seperti yang memiliki ilmu tentang kitab yang berkata kepada Sulaiman, “Aku mendatangkan istana Ratu Bilqis ke sini sekejap mata.”

Karomah Tidak Terputus Sampai Hari Kiamat

Bahwa karomah akan terus ada sampai hari Kiamat ditetapkan oleh dalil naqli dan aqli.
Dalil naqli: Rasulullah mengabarkan dalam kisah Dajjal bahwa dia memanggil seorang pemuda, pemuda tersebut hadir dan berkata, “Kamu berdusta. Kamu hanyalah Dajjal al-Masih di mana Rasulullah telah memberitakan kepada kami tentang dirimu.” Maka Dajjal memenggal tubuh pemuda tersebut menjadi dua. Setengahnya dilempar ke sana setengahnya lagi ke sini dengan jarak yang sangat jauh. Dajjal berjalan di antara keduanya. Kemudian dia memanggilnya maka pemuda tersebut bangkit dengan wajah berseri-seri, Dajjal memanggilnya agar dia mengakuinya sebagai tuhan. Pemuda tersebut menjawab, “Pada hari ini aku semakin yakin bahwa kamu adalah Dajjal.” Dajjal hendak membunuhnya tetapi dia tidak mampu melakukannya.

Ketidakmampuan Dajjal membunuh pemuda tersebut adalah temasuk karomah tanpa ragu.

Dalil aqli: Selama penyebab karomah adalah perwalian maka ia akan terus ada sampai hari Kiamat karena perwalian akan terus ada.

Dari Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah, Syaikh Ibnu Utsaimin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar